Salah satu tujuan dari dakwah Islam adalah membangun peradaban Islam yang gemilang. Gemilang dalam arti peradaban yang di dalamnya tercipta rasa saling percaya, solidaritas tinggi, dan rasa percaya diri serta semangat tinggi untuk maju. Tentu saja sebagai contoh utama adalah sosok Nabi Muhammad Saw. Dengan sangat singkat, dalam kurun waktu 23 tahun (terhitung setelah menerima wahyu pertama), Rasulullah mampu membangun masyarakat Madinah yang adil dan beradab. Peran Rasulullah sebagai pemimpin sekaligus pendakwah dinilai amat gemilang. Salah satu buktinya adalah penilaian Michael Hart, seorang ilmuwan dari Amerika Serikat yang memilih beliau sebagai tokoh urutan pertama yang paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia. Bahkan, model masyarakat ala Rasulullah tetap menjadi acuan bagi masyarakat dunia termasuk non muslim hingga saat ini. Kita tahu, bahwa masyarakat yang dipimpin Rasulullah tidak hanya dari umat Islam, tetapi juga dari umat beragama lain. Ini menjadi titik perhatian yang tetap harus diingat, bahwa peradaban Islam yang gemilang tidak harus hanya terdiri dari umat Islam. Kita mesti bersepakat, jika peradaban Islam yang gemilang tidak bisa kita gapai hanya dengan dakwah tanpa diiringi bagusnya kemampuan memimpin dan mengorganisir. Dan satu hal lagi yang saat ini menjadi krisis bersama adalah keteladanan nyata dari sang pemimpin. Sekali lagi, kita kembali pada sosok Rasulullah, beliau adalah pekerja keras, tidak hanya pandai menyuruh atau menyeru tetapi turut andil dalam tindakan. Keteladanan Rasulullah ini menjadi bahan pokok para sahabat dalam menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia. Dulu, para sahabat berdakwah dan mengenalkan Islam melalui penyebaran diri ke berbagai wilayah di dunia. Dalam salah satu riwayat, para sahabat yang tersebar ini menetap di wilayah yang didatangi hingga wafat. Lalu bagaimana dengan model dakwah yang sedang berkembang di era serba canggih ini? Hanya dengan sekali klik, dakwah Islam bisa tersebar ke seluruh dunia tanpa perlu berlayar di atas kapal, berpindah dari satu daerah ke daerah lain dengan menunggang kuda, menyeberangi lautan, dan seterusnya. Kita dengan mudah bisa memanfaatkan media sosial atau media massa untuk menyebarkan ajaran Islam. Kemudahan dalam berdakwah yang saat ini digapai oleh masyarakat dunia adalah prestasi baik di satu sisi, sekaligus bencana di sisi lain. Penyebaran ajaran Islam yang lebih cepat dan mudah adalah prestasi, dan isi dakwah yang dangkal, keras, dan tanpa welas asih adalah bencana bagi Islam itu sendiri. Sebagai umat Islam yang berkeyakinan bahwa Islam adalah ajaran yang teduh dan rahmatan lil ‘alamin, maka sudah seyogianya kita menampilkan Islam yang menerangi bukan membenci, mengajak bukan menyepak dan Islam yang penuh rahmat dan keindahan. Dakwah Islam melalui media sosial dan massa terlebih dalam media audio visual subur bermunculan bak jamur di musim hujan. Besarnya kuantitas dakwah yang saat ini tersebar tidak serta merta menjamin kualitas dan kejujuran dari informasi yang disampaikan. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk memasang filter dari isi dakwah Islam yang cenderung mengajak pada perpecahan umat dan merusak nilai-nilai Islam yang penuh rahmat. Himbauan tersebut harus tetap diiringi oleh sikap aktif berbagai pihak, termasuk para civitas pesantren untuk menyebarkan Islam yang penuh kasih sayang dengan memanfaatkan media sosial dan massa. Syukur-syukur bisa terorganisasi dengan baik. Kita tak pernah ingin penyebaran dakwah atau opini tentang Islam menyebar dan dikuasai oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, lalu muncul keadaan ‘There is no right, there is no wrong, there is only popular opinion’, bukan?