Dalam turbulensi geo-ekonomi dan geo-politik saat ini, yang se cara ideologi sepertinya dimenangkan oleh pemikiran kaum neoliberal, maka hampir semua disiplin ilmu sosial-humaniora, ekonomi dan politik menghadapi tantangan, adaptasi atau mati suri. Dua pilihan ini nampa knya tidak banyak memberikan pilihan pada ‘ide berontak yang berotak’. Adaptasi merupakan perubahan berdasarkan basis reformasi, yang intinya adalah melakukan penyesuaian-penyesuaian pada sebuah sistem yang bertu juan untuk peningkatan kualitas, perbaikan kinerja yang dijalankan dalam bentuk-bentuk desain ulang, bangun ulang, model-ulang, organisasi ulang, rencana ulang, bentuk ulang, dan sebagainya. Sedangkan ‘mati suri’ adalah pilihan eskapis dari intelektual yang masih ‘mencari kiri’. sebagai sebuah alternatif melawan dominasi ‘neoliberal’ tersebut1. Ada pilihan yang sulit yaitu transformasi. Transformasi adalah perubahan bentuk sehingga berbe da dengan entitas (subtansi) sebelumnya, metamorfosa. Transformasi lebih dari sekadar menambal ulang, atau mengulang tambalan. Transformasi me rupakan tingkatan, bukan sekadar peningkatan. Keberhasilan trans formasi tidak dihitung dengan persentase, tapi langsung mengubah angka, indika tor, asumsi, dan proposisi awalnya.
http://books.google.com/books/previewlib.js
GBS_insertEmbeddedViewer(“rDdeEQAAQBAJ”, 500,400);