HIJRAH DARI BURUH MENJADI JURAGAN, DARI PEKERJA MENJADI MAJIKAN
Pola ‘Gagal Hijrah’ adalah seperti :
1. Memberi Modal
“Biarkan saya bekerja di jakarta atau Hongkong untuk mengumpulkan modal, sembari suami/saudara merintis usaha di kampung”.
Inilah kesalahkaprahan dalam berbisnis. Modal utama menjadi pengusaha adalah mental, bukan uang. Justru seorang pengusaha sejati harus mampu membuat uang tanpa uang (modal). Mereka yang dimanjakan oleh permodalan saat awal usaha, akan lemah ‘naluri survivalnya’. Permodalan usaha terbaik adalah untuk pengembangan usaha, bukan memulai usaha.
Jika ‘daya juang dan keilmuan’ kerabat yang dimodali lemah, lebih baik berbisnis sendiri saat pulang nanti. Simpan saja duitnya dalam emas, agar tak terkena inflasi.
2. Mengubah Gaya Hidup
Penghasilan boleh naik, tapi gaya hidup tetap sederhana. Begitu gaya hidup naik, maka akan susah turun. Hape ganti iphone terbaru, tas harga jutaan, pakaian harus branded. Penghasilan membesar, pengeluaran juga membengkak.
Saat merintis usaha, sudah wajar apabila penghasilan minim bahkan minus. Mereka yang terbiasa hidup sederhana akan mudah beradaptasi dengan kebangkrutan dan siap untuk bangkit lagi. Mereka yang gaya hidupnya berubah, akan cenderung kembali jadi buruh migran untuk mencari penghasilan besar lagi seperti perlombaan tikus di sangkar bundar. Belilah berdasar fungsi, bukan gengsi.
3. Mencari Uang, Bukan Membangun SCN
Mereka berfikir suatu bisnis dibangun dari uang (modal materi). Salah besar..! Bisnis dibangun dengan FONDASI Skill (ketrampilan), Credibility (kredibilitas), Network (jaringan). Kunci dari ketiga fondasi tersebut adalah ‘Ringan Kaki dan Ringan Tangan’. Ringan kaki dalam silaturahmi dan ringan tangan dalam membantu, baik kawan, bos atau bahkan orang yang tak dikenal. Tentu saja dengan landasan ketulusan, bukan kebulusan. Saat datang ke komunitas, jangan tanyakan “Aku dapat apa jika bergabung denganmu?”, namun tanyakan,” Apa yang bisa kubantu?”. Hanya hati yang dapat menyentuh hati.
4. Belajar Saat Memulai
Jika modal sudah terkumpul, mereka pulang kampung dan memulai usaha, tanpa bekal keilmuan dan ketrampilan, akan berasa kegamangan saat memulai. Beda jika mereka sudah ‘curi start’ saat di perantauan. Apalagi jika di sekitar lingkungan kerjanya memungkinkan untuk berlatih sebelum bertempur. Contohnya, jika ingin buka resto, bekerjalah di resto atau latihlah ketrampilan memasak saat di perantauan. Apalagi jika ingin menjadi online marketer, bisa mulai belajar menjadi internet marketer atau dropshipper. Cukup luangkan waktu 2-3 jam perhari secara istiqomah. Atau jika tak memungkinkan di hari kerja ikuti edukasinya di komunitas bisnis di sekitar kita.
5. Korban Investasi Bodong dan Ribawi
Keserakahan dan kemalasan dalam mengais rejeki, menjadi sasaran empuk bagi para penipu. Tak ada investasi yang tak beresiko. Dalam kerjasama investasi syariah, untung bagi untung, rugi yaa bagi rugi. Artinya: siap untung ya siap rugi. ‘Bagi hasil’ yang tetap, tanpa menanggung resiko kerugian, adalah riba, serupa dengan bunga dalam pinjaman.
Jika ilmu berinvestasi minim, lebih baik simpan dalam EMAS atau Investasi properti
Sukses Berpola, Gagal juga Berpola. Hindarkan diri dari pola gagal dan ikuti pola sukses.