Download and install aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Shop untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO. COM – Dalam beberapa hari terakhir, ribuan warga Iran turun ke jalan memprotes anjloknya nilai mata uang nasional di tengah krisis ekonomi yang kian memburuk.
Aksi protes ini bermula dari pemogokan para pemilik toko dan pedagang pasar pada Minggu (28/12/2025), lalu berkembang menjadi luapan kemarahan politik yang lebih luas.
Mengutip Deutsche Welle (DW) dan Iran International, berikut lima fakta mengenai gelombang demonstrasi di Iran.
1. Pemicu: Jatuhnya Nilai Mata Uang dan Krisis Inflasi
Saat ini, nilai tukar dolar AS telah mencapai sekitar 1,45 juta rial Iran.
Setahun sebelumnya, nilainya masih berada di kisaran 820.000 rial.
Kondisi tersebut membuat upah bulanan rata-rata pekerja penuh waktu di Iran kini hanya setara dengan sedikit di atas 100 dolar AS (sekitar Rp1,7 juta).
2. Bermula dari Pasar
Fakta bahwa gelombang protes bermula dari pasar dinilai sebagai pergeseran penting, menurut DW.
Selama puluhan tahun, pasar menjadi urat nadi ekonomi sekaligus penyangga stabilitas politik Iran.
Pasar juga kerap berfungsi sebagai indikator awal gejolak sosial.
Dalam Revolusi Islam 1979, pemogokan pedagang di Pasar Besar Teheran berperan krusial dalam menjatuhkan rezim.
Kali ini, mogok kerja para pedagang kembali menghantam fondasi ekonomi dan simbol kekuatan konservatif Republik Islam.
Nia menyebut pasar sebagai “urat nadi ekonomi Iran”.
Menurutnya, para pedagang turun ke jalan karena kondisi ekonomi sudah tidak lagi dapat dipertahankan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sendiri memiliki ruang gerak politik yang sangat terbatas untuk meredam kemarahan publik.
Dalam pernyataan yang jarang disampaikan secara terbuka, ia mengakui, “Jika masalah ini tidak diselesaikan, kita tidak bisa memerintah.”
Sejumlah analis menilai pernyataan itu sebagai pengakuan atas kebuntuan politik.
Rancangan anggaran negara 2026 yang mencakup kenaikan pajak hingga 62 persen, di tengah inflasi sekitar 50 persen, semakin memicu kemarahan publik
3. Tingkat Keparahan Krisis
Krisis ekonomi di Iran kini berkembang menjadi krisis sosial dan infrastruktur.
Tabungan masyarakat terus tergerus, sementara bahan pangan dan obat-obatan semakin sulit diperoleh dan mahal.
Pemadaman air dan listrik pun kian sering terjadi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok miskin, tetapi juga kelas menengah perkotaan.
” Faktanya, banyak orang tidak mampu lagi membeli kebutuhan dasar. Ada begitu banyak hal yang tak lagi terjangkau,” ujar Nia.
Krisis air di berbagai kota turut mempercepat mobilisasi massa.
Selama beberapa dekade, Republik Islam Iran mengalokasikan miliaran dolar untuk mendukung jaringan “poros perlawanan” di kawasan, termasuk di Lebanon, Yaman, dan Gaza.
Kini, kebijakan luar negeri tersebut justru menjadi sasaran kritik terbuka dalam aksi-aksi protes.
” Yang kita dengar sekarang adalah penolakan terhadap kebijakan luar negeri Republik Islam Iran,” kata Nia.
4. Langkah Rezim
Di tengah upaya pemerintah meredam keresahan publik, aparat keamanan justru meningkatkan tindakan represif.
Dibandingkan dengan gelombang protes sebelumnya, rezim kali ini tampak bergerak lebih cepat dan keras untuk memadamkan aksi, sebuah indikasi bahwa mereka merasa terancam.
” Kami melihat rekaman daring yang menunjukkan penggunaan gas air mata oleh aparat. Bahkan ada demonstran damai yang ditembak,” ungkap Nia.
Menurutnya, ini menjadi dilema besar bagi pemerintah.
Semakin cepat dan keras kekerasan digunakan, semakin jelas pula lemahnya legitimasi kekuasaan mereka.
Namun, bagi banyak demonstran, tindakan represif tersebut justru memperkuat keyakinan bahwa rezim tidak memiliki solusi politik.
Seperti pada gelombang protes sebelumnya, pemerintah kembali menuding adanya campur tangan asing, khususnya Amerika Serikat dan Israel.
Setelah badan intelijen Israel, Mossad, secara terbuka menyerukan dukungan terhadap protes, media pemerintah Iran kembali menggulirkan narasi “destabilisasi asing”.
Namun, luasnya skala dan kecepatan mobilisasi massa membuat banyak pihak menilai bahwa gerakan ini tidak mungkin direkayasa dari luar.
Bagi warga Iran, tudingan konspirasi asing justru dianggap sebagai penolakan rezim untuk menghadapi realitas yang sebenarnya.
5. Jatuhnya Korban
Mengutip Iran International, aksi protes memasuki hari kelima pada Kamis (1/1/2025), dengan laporan tewasnya sedikitnya tiga demonstran: Dariush Ansari Bakhtiarvand di Fooladshahr, Amir-Hessam Khodayarifard di Kuhdasht, dan Shayan Asadollahi di Azna.
Selain itu, dilaporkan sedikitnya empat korban jiwa lainnya dalam bentrokan di wilayah berbeda.
Gelombang demonstrasi juga meluas ke kota suci Qom, pusat keagamaan Syiah di Iran, di mana para demonstran meneriakkan slogan pro-monarki meski pengamanan diperketat.
Kerusuhan kini menyebar ke puluhan kota, termasuk Teheran, Mashhad, Isfahan, Lorestan, Khuzestan, serta sejumlah wilayah lain di Iran.